Green Trips

Mei
31
2008
Kunjungan GL ke Kebun Karinda

Wahh...setelah lebih dari ½ tahun, akhirnya komunitas GL kembali mengadakan kegiatan jalan-jalan bareng. Seperti biasa, jalan-jalan GL gak cuma pergi bersenang-senang dan kopi darat sesama anggota, tapi juga bisa menambah pengetahuan dan keterampilan peserta untuk gaya hidup yang lebih hijau.

Nahhh....tujuan kunjungan GL kali ini ke Kebun Karinda yang berlokasi di Lebak Bulus. Ada apa emangnya di sana? Di sana kita akan belajar tentang mengompos sampah organik dengan metode Keranjang Takakura. Keranjang Takakura....apa pulak itu? Jangan-jangan itu merek keranjang sampah? Untuk jelasnya...kita cek aja deh ke sana!

Ceritanya di hari yang sudah dijanjikan, pukul 07.30, satu persatu anggota milis GL muncul di Kebun Karinda. Ada yang jalan kaki (wuihh sadisss...hari gini ada yang jalan kaki!), naik motor, dan naik mobil.

Tentu aja untuk yang naik mobil, milis GL mengusulkan untuk bikin car pooling...alias kasih tebengan ke peserta lain yang kebetulan gak bawa mobil tapi lokasi rumahnya berdekatan. Gak heran kalau sebelum hari H, milis GL sempet heboh dengan posting-an tebeng menebeng ini....sampe bikin beberapa anggota ngeluh karena inbox nya mendadak penuh. Yah mahap deh ya...tapi demi...demi mengurangi dosa karbon karena make mobil, sambil menambah keakraban sesama anggota.

Dari 40 orang yang mendaftar untuk hadir di acara ini, hanya 27 orang yang datang, ditambah 2 anak mbak Woro yang masih kecil-kecil. Jadi total pesertanya adalah 29 orang. Lumayaaaan...dagangan tetep lakuuu!

Sambil menunggu kehadiran yang lain...kalau di terminal istilahnya ngetem... para anggota milis GL yang sudah saling kenal bercengkrama, yang belum kenal...ya kenalan, sambil ngisi absen dan masang stiker nama. Ada juga yang sibuk membaca majalah Greeners yang dibawa oleh Syaiful, anggota milist GL sekaligus pengelola majalah tersebut. Nuhun pisan ya!
Pukul 08.30 ibu Sri Djamaludin memulai pelatihan dengan memutarkan film pendek mengenai Kebun Karinda. Wah gak nyangka, filmnya dibintangi oleh Rano Karno. Buat fansnya RK...rugi banget loh gak ikutan nonton.

Pentingnya bakteri dalam mengompos
Setelah pemutaran film, beliau menjelaskan tentang teori pengelolaan sampah menjadi kompos. Ada dua cara bagaimana sampah organik dapat menjadi kompos, pengomposan pasif yaitu oleh bakteri Anaerob dan pengomposan aktif yaitu dengan bakteri Aerob.

Anaerob yaitu bakteri yang melakukan pengomposan melalui proses pembusukan misalnya dengan membiarkan sampah organik berada di atas tanah selama beberapa waktu. Karena melalui pembusukan maka proses ini menghasilkan bau yang tak sedap. Sementara Aerob yaitu bakteri yang melakukan pengomposan melalui fermentasi sehingga tidak menghasilkan bau tak sedap. Nahh...metode pengomposan dengan menggunakan bakteri Aerob inilah yang diajarkan di Kebun Karinda.

Ada dua sampah rumah tangga yang pengelolaannya meski dibedakan yaitu sampah dapur dan sampah halaman (daun dan ranting dari kebun). Ibu Djamaludin dalam pelatihan ini menjelaskan pengelolaan sampah dapur melalui metode keranjang Takakura. Akhirnya kita tahu bahwa ternyata Takakura adalah nama orang Jepang yang menemukan metode ini...kayaknya sih masih temennya Sakukurata ya.

Dari penjelasan tersebut, tahulah kami bahwa mengelola sampah sama seperti memelihara binatang (atau mungkin mirip seperti memelihara Tamagotchi). Bakteri adalah kunci keberhasilan pengomposan sampah metode Takakura. Karena bakteri adalah mahluk hidup, maka sama seperti mahluk hidup lainnya, ia juga membutuhkan makan, minum, dan udara.
Sampah organik dalam hal ini adalah makanan bakteri. Sama seperti manusia, makanan bakteri pun harus seimbang zat-zatnya. Dua zat yang harus dimakan bakteri yaitu Karbon yang merupakan sumber energi dan Nitrogen untuk membantu bakteri tumbuh dan berkembang. Tanda sampah organik yang banyak mengandung Karbon yaitu kering, kasar dan berserat, berwarna coklat, misalnya nasi atau daun kering. Sementara sampah organik yang mengandung Nitrogen biasanya berwarna hijau dan mengandung air. Dari sampah inilah bakteri mendapatkan air untuk minum.

Mengingat bakteri yang digunakan adalah bakteri Aerob, maka udara sangat berperan penting untuk keberhasilan proses pengomposan. Karenanya wadah pengomposan tidak boleh tertutup rapat, memiliki lubang-lubang untuk sirkulasi udara. Proses mengaduk sampah juga harus dilakukan tiap hari untuk membantu bakteri mendapatkan udara.

Penting juga diketahui bahwa bakteri Aerob hanya dapat hidup dalam kelembaban yang tepat. Persenyawaan yang terjadi dalam proses pengomposan dapat mencapai panas yang cukup tinggi yaitu hingga 40 derajat celcius (untuk kompos sampah dapur). Baru ketahuan bahwa ternyata suhu yang tinggi menjadi tanda bahwa mikroba sedang bekerja aktif membuat kompos. Wah kalau manusia mungkin udah buru-buru dibawa ke RS karena diduga kena dember...alias demam berdarah.

Seusai diberi pejelasan, peserta diberi waktu untuk bertanya. Mas Farid yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh, di Pondok Aren, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berondongan pertanyaan ke Bapak dan Ibu Djamal. Untungnya, walau sudah tak muda lagi, mereka berdua tetap semangat menjawab pertanyaan.

Setelah sesi presentasi dan tanya-jawab, kami diajak melihat langsung proses pengomposan yang terjadi di Kebun Karinda. Pertama-tama proses pengomposan sampah dapur, kemudian dilanjutkan dengan proses pengomposan sampah kebun. Oh iya, untuk proses pengomposan sampah kebun, metode yang digunakan berbeda dengan metode Takakura. Tapi untuk jelasnya, lihat di lembaran brosur aja ya.

Kunjungan lanjutan: Ke SMA Merah Putih

Usai pelatihan, Ibu Djamaludin menawarkan kami untuk mengunjungi Sekolah Merah Putih yang letaknya tidak jauh dari Kebun Karinda. Sekolah tersebut merupakan sekolah swadaya masyarakat yang diperuntukkan untuk anak-anak pemulung. Kebun Karinda membina sekolah ini dalam hal pengelolaan sampahnya.

Tadinya kami hendak berkunjung ke sana, sambil menunggu kupat tahu Magelang andelannya Ibu & Pak Djamaludin. Wahh...sayangnya tukang kupat tahunya tidak berjualan hari itu...padahal air liur kami udah terbit sejak pak Djamaludin promo-in kupat tahu tersebut. Yahhh...akhirnya kami terpaksa harus menahan lapar. Mungkin karena sudah kelaparan, akhirnya beberapa peserta milih pulang (cari sarapan?) daripada ke Sekolah Merah Putih. Yahhh...jadi kurang rame deh...gak seruuu...

Di Sekolah Merah Putih kami baru ingat untuk foto bersama. Ceklek! Jadilah gambarnya walau tak semua peserta ada. Usai dari Sekolah Merah Putih, lagi-lagi Ibu Djamal mengajak kami mampir. Ya ampyuuun...gak nyangka nih si Ibu doyan nenangga, padahal kan perut kita udah keroncongan. Kali ini ke rumah Rano Karno. Beliau ingin menunjukkan pengolahan kompos yang dilakukan keluarga RK serta koleksi tanaman hias mereka yang subur.

Berhubung satu-persatu para peserta sudah menghilang pulang, akhirnya jalan-jalan GL kali ini tidak ditutup dengan makan siang bersama. Namun Melly dan orangtuanya, Em, Ade, Ratna, serta Hari (adiknya Ratna) melanjutkan acara dengan makan siang di Kedai Halaman yang berlokasi di Cipete.

Semoga jalan-jalan GLS kali ini bisa menggerakkan peserta untuk mengompos sampah rumahnya. Selain itu, moga-moga temen-temen yang belum sempet ikut, dapat ikut di kegiatan berikutnya. Sampai jumpa!!

Peserta yang ikut ke Kebun Karinda:

  1. em
  2. Mita
  3. Bayu
  4. Syaiful
  5. Meidy
  6. Jackie Muaya
  7. Enny
  8. Olly
  9. Hari
  10. Olive
  11. Ocha
  12. Chris
  13. Farid
  14. Elisa Hadi
  15. Ratna S.
  16. Ade
  17. Melly
  18. Pak Damly
  19. Ibu Nina
  20. Agus Mediarta
  21. Rani
  22. Lisa
  23. Sulis
  24. Irma
  25. Setiawati
  26. Henny
  27. Anastasia Woro
  28. Bella (anak mbak Woro)
  29. Elena (anak mbak Woro)

Viewed: 587

Tags: kompos, takakura, jakarta


Pengujung Greenlifestyle di Kebun Karinda
2008-12-02 00:00:00
Greenlifestyle 2008