Green Trips

Jun
06
2009
Kunjungan ke Pabrik Pengolah Limbah Berbahaya di Cileungsi

Akhirnya, setelah jadwal yang ‘terlunta-lunta', GL mendapat kesempatan berkunjung ke WMI - Waste Management Indonesia, atau lebih dikenal PPLi - PT. Prasadha Pamunah Limbah Industri. Dari dua kata Pamunah Industri, teman-teman pasti sudah menduga tempat apa ini...tempat pemusnah limbah. Duh, kok jalan-jalan ke tempat sampah sih, kata seorang teman yang berhasil ‘dipaksa' untuk ikut trip Sabtu (6/5) lalu.

Dalam persiapan, seperti biasa, kami berusaha car pooling. Tapi ternyata kebijakan dari perusahaan yang akan dikunjungi mengharuskan kita untuk menyewa satu bus untuk melakukan perjalanan. Nantinya saat melakukan site tour, bus kami akan dikawal.

Beberapa hari sebelum hari H, yang mendaftar ada sebanyak 27 orang. Akhirnya sepakat menyiapkan dua jenis camilan masing-masing 30 buah. Ternyata, pagi itu, tak lebih dari 20 orang yang hadir. Maklum, akhir pekan saatnya bersama keluarga.

Agenda perjalanan, seperti yang direncanakan, dimulai pk. 07.00 hingga pk. 12.00, dengan asumsi bahwa pada jam tersebut peserta tiba sesuai waktunya di parkiran Put Put, Senayan.

Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya tim GL perjalanan kali ini berangkat sekitar pukul 8 kurang. Perjalanan kurang lebih satu jam ini, dipergunakan untuk ajang meet & greet. Diawali oleh Mas Bayu sebagai organizer, diteruskan oleh teman-teman lainnya, yang memiliki berbagai latar belakang. Ada yang pekerja swasta, ada ibu rumah tangga, ada wartawan, ada fotografer, ada mahasiswa. Wah, komplit deh.

Ada Pak Fajar, yang berminat ikut kunjungan kali ini, karena beliau sudah memiliki 3 ton TetraPak yang siap dikirim ke Bandung jika sudah mencapai 4 ton. Penasaran ke WMI, karena beliau ternyata punya usaha pengumpulan sampah, termasuk sampah baterai. Dan beliau ingin mencari kejelasan akan kabar bahwa harus membayar jika mengirim baterai ke perusahaan pengolah limbah ini.

Ibu Shanty, yang merupakan kunjungannya kedua ke lokasi, penasaran apakah mungkin GL bisa memberikan baterai yang terkumpul ke WMI. Doni, mahasiswa teknik, yang tertarik dengan alternatif energi berharap mendapat sesuatu dari perjalanan ini. Baby, seorang wartawan sebuah harian ibukota, tertarik untuk mengintip kegiatan GL kali ini. Reiko, profesional IT, mau mencari tahu di mana bisa membuang sampah-sampah elektronik. Rien, profesional muda lainnya, ingin belajar lebih banyak gaya hidup yang hijau. Dan banyak lagi lainnya, yang memiliki kepedulian akan lingkungan.

Di tengah jalan, di pintu tol Gunung Putri, ada Ibu Bibong yang kemudian ikut bergabungPerjalanan melalui jalan tol ini terasa singkat. Dengan banyaknya pengetahuan Ibu Bibong, Shanty, dan Pak Fajar, obrolan tentang daur ulang sampah sampai dengan manajemen bahkan bagaimana kebijakan pemerintah yang belum bisa menegaskan para produsen di Indonesia untuk bertanggung jawab atas produknya.

Sekitar pukul 9an, bus kami memasuki jalan menuju ke pabrik. Sesampainya di ruangan Training Centre WMI, kami disambut oleh Mbak Arum. Yang kemudian langsung dilanjut ke presentasi tentang profil perusahaan oleh kolega Mbak Arum lainnya. Pada kesempatan ini, kita juga akhirnya bertemu muka dengan Mas Andita yang juga anggota GL.

Jadi, WMI atau PPLi itu adalah sebuah perusahaan Indonesian yang telah beroperasi sejak 1994 yang awalnya untuk meyediakan jasa khusus menangani limbah berbahaya. Sekarang, saham perusahaan dimiliki oleh Modern Asia Environmental Holdings (MAEH) dan 5 % dimiliki oleh Pemerintahan kita melalui Menteri Dalam Negeri Pemilik Perusahaan.

Memang tidak semua dari kita yang memikirkan bagaimana sebuah proses terciptanya sebuah produk di sekitar kita sudah melewati proses yang sangat panjang. Yang mana, selama proses, limbah sudah dihasilkan dan merusak alam. Padahal, alam butuh ratusan tahun untuk pemulihan.

Disinilah pentingnya 3R - reduce, reuse dan recycle. Tapi sayangnya tidak semua limbah dapat didaur ulang, oleh karena itu, dibutuhkan suatu penanganan khusus sehingga limbah tidak lagi berbahaya bagi lingkungannya.

Di WMI ini kita menjumpai standar internasional dan nasional pengolahan limbah. Pantas saja kenapa lingkungan pabrik begitu bersih untuk sebuah tempat pengolahan sampah. Bahkan mereka memiliki tingkat keamanan yang tinggi, yang pada akhirnya membuat dua orang peserta harus tetap di training centre karena pihak perusahaan tidak mau mengambil risiko tinggi membawa anak kecil ke dalam site.

Standar yang dimaksud adalah analisa penentuan metode pengolahan, pengangkutan, pengkemasan, penyimpanan, pengolahan, dan baku mutu pasca pengolahan. Di sini baru saya tersadar, kalau perusahaan ini ada perusahaan jasa. Jadi tidak heran, kenapa kita harus membayar jika ingin limbah kita diolah di sini.
Oh iya, yang menarik, dari proses pengolahan limbah, WMI dapat menghasilkan bahan bakar metan. Bahan bakar ini ternyata sudah lama digunakan oleh perusahaan tetangga mereka, semen Holcim.

WMI menangani semua limbah, kecuali limbah radioaktif, limbah mudah meledak, dan limbah infeksius. Mereka juga tetap bertanggung jawab atas dampak lingkungan atas aktivitas yang mereka lakukan sampai dengan 30 tahun setelah semua fasilitas mereka berhenti beroperasi.

Lokasi pemilihan lokasi perusahaan pun tidak sembarangan karena juga harus memenuhi persyaratan yaitu seratus tahun jarak terjadi gempa bumi dan tidak rawan banjir.

Setelah presentasi dan tanya jawab, kami pun diantar untuk berkeliling site WMI yang kebetulan sepi karena Sabtu-Minggu tidak beroperasi.

Sebelum tur dimulai, kami diberi pengarahan tentang keamanan di lokasi pabrik. Harus menggunakan pakaian pelindung yang melindungi seluruh tubuh. Oleh karena itu, karena kami tidak diberi pakaian pelindung, kami harus patuh melihat-lihat dari dalam bus yang berjalan pelan. Tidak boleh mengeluarkan bagian badan karena mencegah dari terkontaminasinya oleh sesuatu yang tidak diinginkan.

Perjalanan di lokasi tidak dapat diabadikan karena tidak diperbolehkan mengambil gambar di sini. Kami melihat sebuah landfill atau penimbunan sampah yang tidak bisa didaur ulang kembali yang sudah penuh. Dan bukit kecil ini ditutup oleh tanah dan ditanam dengan tanaman ringan, ternyata indah loch walaupun bagian bawahnya merupakan tumpukan sampah-sampah. Di sekitar bukit ini, ada sumur yang menjadi alat pemantau mereka jika ada terjadi kebocoran.

Ada juga landfill yang sedang diisi. Masih ditutup dengan terpal (karena sedang libur) supaya tidak kemasukan air hujan. Tempat penimbunan sampah ini dirancang sedemikian rupa supaya tidak mengkontaminasi tanah dan air di sekelilingnya. Alas penimbunan terdiri dari beberapa lapisan; dari lapisan pemantauan, lapisan tanah liat yang sangat padat, dan delapan lapisan lainnya sebelum sampah. Dilihat dari segi keamanan sih, memang sangat tebal sehingga tingkat kebocoran sangat kecil.

Sebelum berpisah dengan pihak WMI, GL kembali meminta agar pihak perusahaan memikirkan kerja sama dengan GL dalam hal pengumpulan sampah baterai. Karena selama ini, pengumpulan yang sudah berjalan belum memenuhi kuota untuk diproses. Perwakilan WMI menjanjikan akan membawa usul ini ke manajemen WMI. Mudah-mudahanan hal ini bisa terjadi secepatnya dan seru sepertinya kalau kita kampanyekan pengumpulan baterai secara lebih meluas.

Nah, karena masih belum tegasnya Undang-Undang Sampah yang dikeluarkan oleh pemerintah kita, untuk sementara ada baiknya kita semakin lebih peduli dengan lingkungan dengan dimulai dari hal-hal kecil. Seperti berikut ini.
1. mengurangi jumlah sampah dengan menggunakan baranga yang bisa dipakai berulang-ulang
2. jangan malu untuk menggunakan barang bekas/barang daur ulang
3. kurangi penggunaan kantong plastik dengan membawa tas sendiri dari rumah
4. dll.

Di akhir perjalanan sempat tercetus ide untuk perjalanan GL berikutnya. Beberapa pilihan muncul, yaitu ke perusahaan pendaurulangan kemasan TetraPak di Bandung atau ke pertanian organik yang juga tidak jauh dari Jakarta.

Acara kali ini selesai di tempat berkumpul. Masing-masing meninggalkan lokasi parkir dengan tambahan ilmu walau hanya dalam setengah hari perjalanan.

 


Viewed: 0

Tags: limbah, sampah, elektronik, baterai
Maaf, trips masih dalam pengembangan...