Green Trips

Agu
09
2009
Obrolan GL: Kenapa memilih produk organik?

Pada pertemuan GL kali ini, kita mendapatkan pinjaman tempat yang sangat nyaman. Sebuah saung di halaman kantor Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB) yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Pas sekali sebagai sebuah tempat ngobrol-ngobrol santai. Belum lagi ditemani dengan suguhan berupa ubi, talas & kacang rebus. Wah...luar biasa mewahnya!

Narasumber obrolan kali ini adalah Ibu Bibong yang telah menjadi konsumen pangan organik sejak tahun 1997. Ia memulai presentasi dengan menyampaikan beberapa fakta tentang betapa bahayanya sayuran-sayuran dan buah-buahan dari petani konvensional yang masih menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Dalam presentasinya, Ibu Bibong juga menunjukkan beberapa produk (wortel, tomat, kol & seledri) yang organik & non-organik, untuk memperlihatkan perbedaannya pada para peserta. Ternyata keduanya dapat dibedakan dari segi warna, ukuran maupun aromanya.

Ibu Bibong juga sempat mengisahkan tentang pengalaman seorang ibu petani organik yang harus membesarkan seorang anaknya, karena suaminya telah meninggal. Dengan menjadi petani organik, sang ibu mengakui bahwa perekonomiannya keluarganya membaik sehingga ia bisa terus menyekolahkan anaknya.

Selain Ibu Bibong, ada juga Ida Pardosi dari PIB dan Pak Subagio yang ikut membagikan pengetahuannya di seputar pangan organik.

Selama acara berlangsung, juga terjadi tanya-jawab dan diskusi seru. Tak heran jika kemudian para peserta pun hampir lupa makan siang dan bahkan berat utk meninggalkan tempat saat waktunya pulang. Karena terlalu banyak yang ingin ditanyakan atau didiskusikan.

Saat makan siang, kami disuguhi berbagai penganan organik yang sederhana namun luar biasanya nikmatnya. Ada sayur asam, tempe & tahu goreng, sambal, empal (non-organik), telur (non-organik), ikan jambal, lalapan. Dan tak lupa ada jus sirsak yang luar biasa mak nyusss...

Di bawah ini beberapa catatan dari pertemuan organik, a.l:

Apa itu yang disebut dengan produk organik?
- Ada pun syarat sebuah pangan disebut sebagai produk organik adalah yang:
o Tidak mengandung pupuk sintetis (kimia)
o Tidak pestisida sintetis (kimia)
o bukan hasil rekayasa genetik
o Tidak diberikan hormon pertumbuhan, tanpa radiasi dan tanpa antibiotik.
o Pada kemasan, harus tertera label misalnya keterangan daerah asal produk (utk produk impor harus jelas penjaminnya)
- Selain itu produk organik sangat menjunjung tinggi etika, sehingga bagaimana produk tersebut dihasilkan & dijual menjadi sangat penting.

Bagaimana membedakan produk organik dengan non-organik?
- Buah-buahan yang 'berbedak', misalnya tomat, yang secara mudah ditemui dipasaran lokal merupakan tanda bahwa produk tsb diberi perlakuan penyemprotan pestisida.
- Cara paling mudah utk membedakan produk organik & non-organik adalah dengan cara merasakan aromanya (untuk yang sudah biasa mengkonsumsi biasanya akan merasakannya secara alamiah). Produk organik mempunyai aroma yang segar, alami, dan lebih kuat aromanya.
- Sayuran yang non-organik bisa tercium bahan kimiawi/pestisidanya. Biasanya menghasilkan bau langu atau aroma yang tidak wajar.
- Selama ini kita seringkali mendengar produk pangan yang natural atau alami. Perlu dicatat bhw produk alami belum tentu organik. Namun untuk produk organik, sudah pasti alami/natural. Karena produk dikatakan organik memerlukan kaidah-kaidah organik yang sudah ditentukan mis SNI ttg produk Organik atau standart IFOAM
- Produk-produk organik impor disyaratkan untuk memasang label tentang asal produk tsb. Secara bijak kita sebagai konsumen sebaiknya mengetahui secara pasti ttg asal produk organik impor tsb , kelengkapan label merupakan hal yang penting karena kita perlu keyakinan untuk keorganikan atas produk tsb. Apabila ada pilihan lain sebaiknya memilih produk lokal yang dihasilkan tentunya tanpa harus memperpanjang jejak karbon kita, disamping meningkatkan ekonomi lokal.

Apakah produk organik perlu memiliki sertifikasi ?
- Kelengkapan label pada produk organik diperlukan
- Di Indonesia ada 6 lembaga sertifikasi produk organik.
- Namun permasalahannya, butuh biaya besar utk membuat sertifikasi. Para petani umumnya tidak mampu , sehingga muncul penjaminan partisipatif yang berupa penjaminan multi pihak untuk produk organik pasaran lokal.
- Sertifikasi atau penjaminan pihak ketiga biasanya juga membuat harga produk jadi mahal yang diperlukan untuk pasar global

Produk organik, bisa didapatkan di mana saja?
- Kebanyakan pangan organik lokal tidak atau belum memiliki sertifikasi, karena kendala biaya sertifikasi yang mahal sehingga diperlukan atau digunakan penjaminan pihak pertama atau kedua. Oleh karena itu disiasati dengan sistem belanja komunitas (contoh: Sekolah Regina Pacis Bogor dan pasar tani MPPO di Deptan). Atau dengan penjaminan pihak kedua, sehingga keluhan dari konsumen dapat ditangani terlebih dahulu oleh pihak penjamin. *Taiwan dan Korea juga melakukan pasar komunitas.
- Pembelian produk organik dilakukan dengan bentuk belanja komunitas. Saat ini tersebar di beberapa pick up point di Jakarta. (Info tentang ini menyusul).
- Pick up point yang besar nantinya bisa menjadi pasar kecil (semi pasar).
- Untuk belanja komunitas, sedang diupayakan agar konsumen bersedia melakukan pembayaran di muka (DP) atau melalui pesanan sehingga memudahkan petani merencanakan penanaman. Untuk petani organik yang biasanya petani skala kecil, apabila produk tidak habis terjual akan menjadi kendala tersendiri bagi mereka.

Kenapa produk organik lokal tidak dijual di supermarket?
- Petani organik tidak ingin mengarah ke pasar supermarket supaya harga jual tidak lebih tinggi, di samping persyaratan yang rumit.
- Bentuk belanja komunitas menyebabkan terjalinnya komunikasi antara penjual dan pembeli. Hal ini berarti menghadirkan nilai-nilai yang hilang, sejak beralihnya orang belanja ke supermarket.
- Dengan belanja komunitas, pembeli bisa menyampaikan kebutuhannya secara langsung kepada petani utk jenis sayur/buah yang belum tersedia. Dengan begitu, petani bisa merasa pasti bahwa sayur/buah yang akan ditanam berdasarkan permintaan pasar.
- Bentuk belanja komunitas menghadirkan adanya penjamin yang bisa dipercaya dalam menjamin bahwa produk yang dijual itu sesuai dengan kaidah-kaidah produk organik.
- Mengingat bahwa ini merupakan sebuah gerakan moral, maka belanja komunitas juga menanamkan kejujuran dan kepercayaan pembeli kepada produsen (penjamin & petani).

Kenapa memilih jadi konsumen organik? Apa keuntungannya?
- Alasan untuk menjadi konsumen organik, ternyata tidak terbatas pada alasan kesehatan & lingkungan saja, spt yg selama ini kita ketahui. Ada banyak alasan lainnya, yaitu:
o Ekonomi

  • Dengan mengonsumsi produk organik, berarti kita membantu kehidupan petani2 organik di belakang kita. Rantai perdagangannya yang pendek (berbeda dgn rantai perdagangan produk non-organik), membantu utk lebih menyejahterakan para petani.

o Budaya etika 

  • Produk organik ditanam dan dijual dengan menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Diantaranya dengan tidak mendukung rekayasa genetika, jual-beli dilakukan dengan berdasarkan kejujuran/ kepercayaan, dsb

o Pertanian organik juga menjunjung nilai-nilai kehidupan tentang kesederhanaan, kepedulian, cinta kasih, dan saling menghargai.

- Nutrisi dalam pangan organik:
o Vitamin lebih baik
o Anti oksidan 40% lebih banyak
o Flavonorid
o Pytonutriem 10-50% lebih tinggi
o Kadar nitrat yang lebih rendah (penyebab kanker)

- Menjadi konsumen organik mengenalkan kita pada nilai kehidupan utk tidak menjadi serakah. Yaitu di mana konsumen hanya membeli produk secukupnya sesuai kebutuhan. Karena produknya yang terbatas, kita harus berbagi dgn org lain yang juga membutuhkannya.

- Dengan menjadi konsumen organik, berarti kita telah ikut berupaya agar petani mempunyai kehidupan yang lebih baik.

- Petani organik terbukti lebih sehat dibanding petani non-organik karena tidak terkena paparan bahan kimiawi. Selain itu, penyakit akibat gangguan pernapasan seperti asma pun berkurang.

Kenapa harga produk organik relatif mahal?
- Alasan pangan organik masih lebih mahal daripada pangan non-organik, karena:
o stoknya masih sangat terbatas. Belum banyak petani yang beralih menjadi petani organik. Selain itu, juga karena tanah perlu masa konversi sehingga produk belum siap dikatakan produk organik ,. Jika tanah sudah siap, sudah kembali sehat, dan hasil panen meningkat bagus.
o ongkos produksi relatif tinggi karena membutuhkan tenaga kerja yang cukup byk (tdk bs menggunakan mesin). Selain itu butuh waktu untuk menyehatkan tanah kembali.
o Hasil pasca panen lebih sedikit, karena buangan lebih banyak  40% , tergantung kualitas produk seperti apa yang dibutuhkan curah atau kualitas 1.
o Proses transportasinya mempunyai perlakuan khusus, karena produk organik tdk boleh dicampur dgn produk bukan organik, di samping jarak tempuh yang biasanya cukup jauh.
- Lahan organik memperhitungkan benih, air bersih, cara menangani hama dan penyakit tanpa bahan kimiawi sintetis dan dibutuhkan buffer zone apabila disekitarnya ada lahan yang menggunakan sistem konvensional.
- Petani organik baru bisa mencapai Break Even Point setelah 3-4 tahun, karena butuh waktu utk menyehatkan tanah, menghilangkan residu2 bahan kimia.
- Harga pangan organik bisa naik, tetapi tidak fluktuatif. Setidaknya kita membayar lebih demi kesejahteraan petani organik.

TIPS menjadi konsumen organik
o Read Label First

  • Perhatikan kandungan, tanggal kadaluarsa, perizinan, sertifikasi atau penjamin yang dapat dipercaya

o Tentukan dan kenali petani/penjamin yang dapat dipercaya
o Pilih produk yang sedang musim saja
o Cuci bersih (gunakan cuka masak)
o Belilah produk organik lokal
o Produk organik lebih tahan lama disbanding produk non-organik
o Jika produk organik yang dibeli tampak layu, segera siram/rendam dalam air dingin beberapa saat, agar tampak segar kembali.
o Simpan sayur/buah organik dengan menggunakan kertas kue atau di dalam kemasan alumunium bekas Chiki, misalnya.
o Pengolahan produk organik sebaiknya tidak dimasak dengan menggunakan air PAM karena mengandung klorin. Gunakan air dengan water purifier atau air kemasan.
o Jika tidak bisa 100% menjadi organik, paling tidak bisa dimulai dari konsumsi beras organik. Karena masih sulit menemukan masakan organik siap saji di luar rumah.
o Bisa melakukan penanaman sendiri di halaman rumah

Fakta-fakta pangan konvensional:
1. Melon - banyak menggunakan pestisida saat penanaman (banyak campuran zat-zat kimiawi tambahan dan pestisida)
2. Semangka juga coctail
3. Kol - pestisida
4. Kentang - pestisida
5. Tomat - pestisida
6. Brokoli - pestisida
7. Wartel yang sudah mengeluarkan akar halus sudah tidak layak dikonsumsi
8. Tales -pestisida
9. Tepung terigu mengandung pemutih (sebaiknya gunakan tepung beras)
10. Gula putih juga mengandung pemutih (sebaiknya gunakan gula aren/merah)

Pertemuan yang dimulai sejak pk.11.00, tak terasa harus berakhir pada pk. 15.00. Wah pertemuan kali ini benar-benar acara ngobrol yang menyenangkan dan mengenyangkan :-)

 


Viewed: 0

Tags: makanan, green food, organik, pertanian, pestisida
Maaf, trips masih dalam pengembangan...